
Brent Bertahan Dekat US$100, Hormuz Kunci Premi Risiko dan Volatilitas
Brent diperdagangkan di sekitar US$100 per barel pada Jumat setelah salah satu pekan paling volatil, ketika Pasar bersiap menghadapi guncangan lanjutan menyusul komitmen Iran untuk menjaga Selat Hormuz tetap “efektif tertutup”. Brent sempat melonjak 9,2% pada sesi sebelumnya, sementara WTI berada di kisaran US$95 setelah rentang pergerakan ekstrem sepanjang pekan.
Pendorong utamanya tetap risiko aliran fisik. Dalam komentar publik pertamanya sejak menggantikan ayahnya, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan Teheran akan berupaya memastikan jalur strategis bagi Minyak dan gas itu tetap tertutup. Perlambatan arus kapal melalui selat yang sempit tersebut membuat pengiriman Minyak mentah, gas alam, dan produk seperti diesel tersendat, menaikkan harga energi sekaligus memicu kekhawatiran Tingkat Inflasi di sejumlah ekonomi.
Langkah penenang dari sisi kebijakan belum mengubah penilaian Pasar. AS menerbitkan waiver sementara kedua untuk pembelian Minyak Rusia—mencakup kargo yang dimuat ke kapal sebelum 12 Maret—lebih luas dibanding arahan sebelumnya yang hanya memberi ruang bagi India. Namun, fokus Pasar tetap pada apakah arus Hormuz bisa pulih, bukan pada tambahan suplai jangka pendek yang sifatnya terbatas.
International Energy Agency (IEA) pada Kamis memperingatkan gangguan pasokan ini sebagai yang terbesar dalam sejarah Pasar Minyak global, sehari setelah para anggotanya menyetujui pelepasan cadangan darurat untuk mendinginkan harga. Sejumlah pelaku Pasar menilai pelepasan stok bisa menahan lonjakan agar tidak menembus level ekstrem, tetapi efeknya cenderung sementara bila hambatan navigasi belum terselesaikan.
Risiko keamanan pelayaran menambah “biaya ketidakpastian” pada harga. Laporan menyebut Iran telah mulai menebar ranjau di Hormuz, mengangkat risiko bagi perusahaan pelayaran dan asuransi. Pemerintah AS menyatakan Angkatan Laut dapat mulai mengawal tanker melalui selat pada akhir Maret, namun klaim pengawalan yang sempat beredar sebelumnya kemudian ditarik kembali, menegaskan bahwa jalur ini tetap kompleks secara operasional.
Dari sisi perilaku Pasar, volatilitas menjadi cerita tersendiri. WTI dilaporkan bergerak dalam rentang sekitar US$43 pekan ini dan Brent sekitar US$38, dengan fluktuasi yang diperparah arus finansial dari Pasar opsi hingga ETF. Seiring belum ada tanda de-eskalasi, pelaku Pasar memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi sampai ada kejelasan soal arus fisik dan keamanan di Hormuz.
Pada Jumat siang di Singapura, Brent Mei relatif stabil di sekitar US$100,47 per barel, sementara WTI April turun tipis sekitar 0,3% ke US$95,47. Selama status Hormuz tetap tidak pasti, premi risiko suplai berpotensi bertahan dan menjaga kisaran harga tetap lebar meski ada intervensi kebijakan jangka pendek.(asd)
Sumber : Newsmaker.id
Panduan Analisis Pasar Keuangan
Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:
Analisis Fundamental
Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.
Analisis Teknikal
Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.
Manajemen Risiko
Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.