indeks saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (26/6).
Indeks Nasdaq berakhir melemah akibat tekanan pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar (Big Tech), sementara S&P 500 nyaris tidak berubah dan Dow Jones menguat seiring investor mencermati serangkaian data ekonomi terbaru.
Seperti dikutip Reuters, saham-saham teknologi berbalik melemah setelah sempat menguat pada awal perdagangan.
Tekanan ini membebani Nasdaq di tengah kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja perusahaan hyperscaler untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) serta potensi beban biaya yang harus ditanggung.
Baca Juga: Wall Street hadapi kontrak opsi US$8,3 triliun jatuh tempo serentak
Kekhawatiran tersebut mengalahkan sentimen positif dari tingginya permintaan AI yang tercermin dalam kinerja kuat Micron dan Qualcomm.
Akibatnya, Nasdaq berada di jalur penurunan bulanan terbesar sejak Maret 2025.
Saham Apple anjlok 6,1% setelah perusahaan menaikkan harga iPad dan MacBook untuk mengimbangi lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan.
Saham Nvidia, Microsoft, dan Alphabet juga terkoreksi di kisaran 0,5% hingga 3,5%.
Di sisi lain, saham Micron melesat 15,7% setelah perusahaan membukukan laba dan proyeksi yang melampaui ekspektasi Wall Street.
Meski demikian, pasar masih dibayangi kekhawatiran mengenai tingginya belanja AI yang didanai utang oleh perusahaan hyperscaler, serta kemungkinan sikap Federal Reserve yang semakin agresif dalam kebijakan moneternya.
“Kini pasar menyadari bahwa ketika satu perusahaan membukukan lonjakan pendapatan dan laba yang luar biasa, pada akhirnya ada pihak lain yang harus menanggung biayanya,” ujar Chief Investment Officer BMO Family Office, Carol Schleif.
Menurutnya, kinerja luar biasa Micron tidak lepas dari besarnya investasi yang dilakukan pelanggan mereka.
Sentimen positif juga mengangkat saham produsen chip memori Sandisk yang melonjak 22%.
Saham Qualcomm, Western Digital, dan Seagate Technology turut mencatat kenaikan tajam.
Secara sektoral, enam dari sebelas sektor utama di indeks S&P 500 ditutup menguat.
Sektor industri memimpin dengan kenaikan 2,2%, sementara sektor barang konsumsi non-primer (consumer discretionary), barang konsumsi primer (consumer staples), dan teknologi menjadi sektor dengan pelemahan terbesar.
Indeks sektor teknologi turun tipis 0,1%.
Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average naik 71,72 poin atau 0,14% ke level 51.920,62.
S&P 500 turun tipis 0,73 poin atau 0,01% ke posisi 7.357,49, sedangkan Nasdaq Composite melemah 118,03 poin atau 0,46% menjadi 25.358,60.
Sementara itu, Philadelphia Semiconductor Index (SOX) melonjak 3,2% dan berada di jalur mencatat kinerja kuartalan terbaik sepanjang sejarah berdasarkan data LSEG.
Di sisi makroekonomi, Departemen Perdagangan AS merilis sejumlah indikator penting.
Inflasi Amerika Serikat pada Mei kembali meningkat dan menembus level 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dipicu kenaikan harga energi.
Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve semakin dekat untuk kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan data LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin sebelum akhir tahun.
Sementara itu, revisi final Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I menunjukkan ekonomi AS tumbuh 2,1%, lebih tinggi dibanding estimasi sebelumnya sebesar 1,6%.
Di sisi lain, klaim pengangguran mingguan turun lebih besar dari perkiraan, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup kuat.
“Inflasi memang masih cukup tinggi seperti yang diperkirakan, tetapi belum terlalu panas.
Dengan harga minyak yang mulai turun, ada harapan inflasi akan kembali melandai selama musim panas hingga musim gugur,” ujar Schleif.
Harga minyak sendiri pada pekan ini turun hingga berada di bawah level sebelum pecahnya perang.
Pada perdagangan individual, saham Bio-Techne melonjak 11,8% setelah perusahaan farmasi Jerman Merck KGaA sepakat mengakuisisi perusahaan bioteknologi tersebut dengan harga US$73 per saham atau senilai sekitar US$11,3 miliar.
Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik mengungguli saham yang turun dengan rasio 1,4 banding 1.
Tercatat 342 saham mencetak level tertinggi baru dalam 52 pekan, sedangkan 276 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 2.325 saham menguat dan 2.463 saham melemah.
Indeks S&P 500 mencatat 55 saham mencapai level tertinggi baru dalam 52 pekan dan 15 saham menyentuh level terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 208 saham di level tertinggi baru dan 235 saham di level terendah baru.
Volume perdagangan di seluruh bursa saham AS mencapai 20,34 miliar saham, lebih rendah dibanding rata-rata harian 20 sesi terakhir yang mencapai 23,04 miliar saham. (DK)