Bursa saham Asia-Pasifik dibuka menguat pada Rabu (16/4/2026), mengikuti penguatan Wall Street semalam, seiring meningkatnya harapan tercapainya solusi diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut menekan harga minyak.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut putaran kedua negosiasi antara Washington dan Teheran tengah dibahas, meski belum ada jadwal resmi.
Presiden Donald Trump juga menyatakan bahwa pihak Iran menunjukkan keinginan kuat untuk mencapai kesepakatan.
Penurunan harga minyak menjadi sentimen positif bagi pasar. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,32% ke US$ 90,69 per barel, sementara Brent Crude melemah 0,28% ke US$ 94,52 per barel.
indeks Asia Kompak Menguat
Mengutip data CNBC, mayoritas indeks saham di kawasan Asia mencatat kenaikan signifikan: Indeks Kospi Korea Selatan melonjak hampir 3% dan Kosdaq naik 1,65%.
Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,72% dan Topix naik 0,87%. Sedangkan, S&P/ASX 200 Australia bertambah 0,42%.
Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Index berada di level 26.145, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 25.872,32.
Wall Street Jadi Penopang Sentimen
Dari AS, indeks utama Wall Street juga mencatat penguatan solid. S&P 500 naik 1,18%, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di 7.002,28.
Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 1,96% dan Dow Jones Industrial Average menguat 0,66% atau 317,74 poin.
Meski demikian, kontrak berjangka indeks AS terpantau sedikit melemah pada perdagangan awal, mencerminkan sikap hati-hati investor setelah reli signifikan.
Sentimen Pasar Masih Bergantung Negosiasi
Optimisme pasar saat ini sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran. Harapan de-eskalasi konflik menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan pasar saham sekaligus menekan harga energi.
Jika pembicaraan berjalan positif, sentimen risk-on diperkirakan berlanjut. Namun, pasar tetap rentan terhadap volatilitas apabila terjadi hambatan dalam proses diplomasi.