Presiden China Xi Jinping memberikan sambutan kenegaraan penuh kehormatan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing, Rabu (21/5), sembari melontarkan sindiran terselubung terhadap Amerika Serikat di tengah memanasnya rivalitas global.

Seperti dikutip Cnn, dalam pertemuan di aula besar, Xi menyebut hubungan China-Rusia sebagai sumber “ketenangan di tengah kekacauan” dunia. Pernyataan itu muncul hanya beberapa hari setelah Xi menjamu Presiden AS Donald Trump dalam KTT bersejarah AS-China di Beijing.

“Situasi internasional ditandai oleh gejolak dan transformasi yang saling terkait, sementara arus hegemoni unilateral merajalela,” kata Xi, menggunakan istilah yang kerap dipakai Beijing untuk mengkritik dominasi kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Xi menegaskan China dan Rusia harus memperkuat “koordinasi strategis komprehensif” di tengah ketidakpastian global.

Pertemuan Xi dan Putin memperlihatkan bagaimana Beijing berupaya memosisikan diri sebagai penengah dan pusat kekuatan baru dunia, dengan menjamu dua rival utama geopolitik global hanya dalam hitungan hari.

Namun berbeda dengan kunjungan Trump, sambutan terhadap Putin berlangsung jauh lebih hangat dan simbolis. Kedua pemimpin menandatangani deklarasi bersama yang kembali menegaskan kedekatan hubungan strategis serta dukungan terhadap tatanan dunia multipolar.

Dalam deklarasi tersebut, China dan Rusia mengecam proyek pertahanan rudal “Kubah emas” milik Trump yang dinilai mengganggu stabilitas strategis global.

“Para pihak meyakini bahwa proyek ‘kubah emas’ AS… menimbulkan ancaman nyata terhadap stabilitas strategis. Rencana-rencana ini sepenuhnya mengabaikan prinsip utama menjaga stabilitas strategis,” demikian isi pernyataan bersama menurut Kremlin.

Xi juga menyinggung perang AS-Israel melawan Iran yang dinilai mengganggu rantai pasok energi dan perdagangan global. “Penghentian perang secara menyeluruh tidak dapat ditunda, memulai kembali permusuhan bahkan lebih tidak diinginkan, dan melanjutkan negosiasi sangat penting,” ujar Xi.

China dan Rusia turut mengecam serangan AS-Israel terhadap Iran serta mengkritik praktik “menggunakan negosiasi sebagai dalih sementara sebenarnya sedang mempersiapkan tindakan” dan “membunuh para pemimpin negara berdaulat”, merujuk pada pembunuhan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Kunjungan ini menjadi lawatan resmi ke-25 Putin ke China selama seperempat abad kepemimpinannya di Rusia dan yang pertama sejak konflik baru meledak di Timur Tengah.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing dan Moskow mempererat koordinasi di bidang perdagangan, diplomasi, dan keamanan, didorong rivalitas bersama terhadap AS dan ambisi membentuk ulang tatanan dunia yang dianggap terlalu didominasi Barat.

Putin menyebut hubungan Rusia-China telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Hubungan Rusia-Tiongkok telah mencapai ‘tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya’ dan termasuk di antara ‘faktor penstabil utama di panggung internasional,’” kata Putin.

Ia juga menyinggung kedekatan personalnya dengan Xi, yang telah bertemu lebih dari 40 kali. Putin menggunakan idiom China “Berpisah satu hari terasa seperti tiga musim gugur” untuk menggambarkan hubungan dekat keduanya.

Selama kunjungan tersebut, China dan Rusia menandatangani sekitar 20 kesepakatan kerja sama, mulai dari energi, pertanian, industri, teknologi tinggi hingga kecerdasan buatan. Kedua negara juga sepakat memperpanjang bebas visa hingga akhir 2027.

“Di tengah krisis di Timur Tengah, Rusia terus mempertahankan perannya sebagai pemasok sumber daya yang dapat diandalkan, sementara China tetap menjadi konsumen sumber daya tersebut secara bertanggung jawab,” ujar Putin kepada Xi.

Di balik kemeriahan seremoni dan pesan persahabatan, posisi Putin dinilai semakin lemah dibanding kunjungan sebelumnya. Rusia tengah menghadapi tekanan besar dalam perang Ukraina setelah serangan drone terbesar dalam lebih dari setahun menghantam Moskow pekan ini.

Analis menilai ketergantungan ekonomi Rusia terhadap China kini semakin besar, memberi Xi ruang lebih luas untuk menekan Moskow dalam negosiasi energi di tengah gangguan pasokan minyak akibat konflik Timur Tengah.

Xi dan Putin juga menghadiri pameran foto bertajuk “Persahabatan Tak Terputus Antar Bangsa-Bangsa Besar, Kemitraan Strategis Kekuatan-Kekuatan Besar” yang digelar media pemerintah China Xinhua dan kantor berita Rusia TASS, mempertegas simbol kedekatan kedua negara di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia.(DH)

BPF