Perusahaan tambang asal Indonesia, Ithaca Resources, mengakuisisi aset milik grup Vitrinite yang bangkrut di Queensland, Australia, melalui transaksi senilai hampir A$224 juta atau lebih dari US$200 juta.
Dikutip dari ABC News, aset yang dibeli mencakup tambang batu bara Vulcan di Bowen Basin. Akuisisi ini menjadi aset tambang pertama Ithaca di luar Indonesia sejak perusahaan tersebut berdiri pada 2007 dengan fokus pada bisnis batu bara.
Laporan administrator dari Cor Cordis menunjukkan grup Vitrinite pada dasarnya telah berada dalam kondisi insolven sejak 30 September 2025. Kesulitan keuangan perusahaan disebut dipicu tingginya biaya operasional serta volatilitas harga batu bara.
Empat bulan setelah Vitrinite runtuh, Ithaca menyepakati pembelian aset tersebut. KordaMentha selaku pengelola menyebut pemilik baru berencana menghidupkan kembali operasi tambang Vulcan.
Transaksi ini juga mencakup pembayaran sebagian utang Vitrinite, termasuk sekitar A$16 juta untuk para pekerja. Finalisasi penjualan dijadwalkan dibahas dalam rapat kreditur kedua pada 29 Juni 2026.
Kejatuhan Vitrinite turut memukul pelaku usaha lokal di sekitar tambang. Seamus Taylor, pemilik bengkel otomotif di Dysart, mengatakan perusahaannya sempat dikontrak Vitrinite pada 2025 untuk merawat armada angkut baru milik perusahaan tambang tersebut.
Taylor mengaku menginvestasikan sekitar A$750.000 untuk membangun fasilitas khusus guna mendukung kontrak itu.
Namun, dalam tujuh bulan pertama, tagihan Vitrinite yang menunggak membengkak hingga ratusan ribu dolar. Ia mengatakan perusahaannya termasuk salah satu pihak yang beruntung karena berhasil menarik kembali piutang sebelum Vitrinite masuk ke proses kurator.
Profesor Pengembangan Ekonomi Regional Central Queensland University, John Rolfe, menilai penjualan aset Vitrinite mencerminkan tren yang lebih luas di industri pertambangan, yakni perusahaan-perusahaan besar mulai melepas aset batu bara mereka.
Ia mencontohkan Glencore yang telah melepas bisnis batu bara hampir satu dekade lalu, BHP yang dalam empat tahun terakhir menjual 80% sahamnya di Mitsui Coal serta tambang Blackwater dan Daunia, hingga Anglo American yang tahun ini melepas lima tambang batu bara metalurgi di Queensland Tengah kepada perusahaan tambang asal Inggris dengan nilai hingga US$5,43 miliar.
Menurut Rolfe, perusahaan tambang besar dengan portofolio yang terdiversifikasi menghadapi tekanan besar dari pemegang saham terkait investasi di bahan bakar fosil.
Karena itu, alih-alih melawan tekanan tersebut, mereka perlahan mengurangi eksposur terhadap batu bara dan mengalihkan investasi ke komoditas lain yang lebih dibutuhkan, termasuk mineral untuk energi terbarukan.
Di tengah tren tersebut, perusahaan spesialis berskala kecil hingga menengah justru semakin banyak masuk ke industri batu bara. Rolfe menyebut akuisisi yang dilakukan Yancoal, Whitehaven, Dhilmar, dan kini Ithaca sebagai bukti pergeseran tersebut.
Meski demikian, Rolfe mengingatkan bahwa perubahan struktur pelaku usaha di sektor tambang dapat membawa konsekuensi bagi komunitas pertambangan.
Menurut dia, pertanyaan besarnya adalah apakah perusahaan yang lebih kecil memiliki kemampuan yang sama untuk bertahan saat pasar bergejolak dan tetap mendukung infrastruktur maupun komunitas di daerah operasional.
Untuk saat ini, Rolfe menilai cepatnya penjualan aset Vitrinite dalam waktu hanya empat bulan menunjukkan masih adanya kepercayaan terhadap prospek ekonomi dari beroperasinya tambang di Bowen Basin.
Ia juga mengatakan komitmen Ithaca untuk membayar sebagian utang Vitrinite, termasuk hak-hak pekerja, memberi sinyal bahwa perusahaan ingin segera memulai kembali operasi tambang.
Taylor berharap Ithaca nantinya juga melibatkan lebih banyak kontraktor dan tenaga kerja lokal dalam operasinya sebagai bentuk komitmen mendukung wilayah tempat perusahaan beroperasi.
Ithaca Resources Milik Siapa?
Ithaca Resources merupakan perusahaan tambang batu bara asal Indonesia yang didirikan pada 2007 oleh Agoes Projosasmito dan Bob Yanuar. Perusahaan ini berkembang melalui akuisisi dan pengembangan aset batu bara di Kalimantan Timur, dengan fokus pada produksi dan perdagangan batu bara untuk pasar domestik maupun ekspor.
Selama hampir dua dekade beroperasi, Ithaca membangun portofolio tambang melalui sejumlah anak usaha yang mengelola konsesi batu bara di wilayah Berau dan Wahau. Perusahaan dikenal sebagai salah satu pemain batu bara swasta nasional yang berfokus pada pengembangan aset jangka panjang dan peningkatan kapasitas produksi.
Akuisisi aset Vitrinite di Queensland menandai langkah ekspansi internasional pertama Ithaca. Melalui transaksi tersebut, perusahaan tidak hanya memperoleh tambang Vulcan di Bowen Basin, tetapi juga memasuki salah satu kawasan pertambangan batu bara paling penting di Australia, di tengah tren banyak perusahaan tambang besar global yang justru mengurangi eksposur mereka terhadap komoditas batu bara. (ARF)