Koreksi tajam saham semikonduktor dan Artificial Inteligence (AI) dinilai belum menandai berakhirnya reli pasar saham global tahun ini, menurut UBS.

Bank investasi global ini justru memperkirakan fase berikutnya dari kenaikan pasar saham, akan ditopang oleh lebih banyak sektor di luar tema produsen chip dan AI.

Dalam laporan Chief Investment Office (CIO) UBS yang dirilis Rabu (24/6), UBS mengatakan peluang reli saham berikutnya justru didukung oleh sektor yang lebih luas.

Pandangan ini sejalan dengan ketahanan ekonomi Amerika Serikat (AS), pasar tenaga kerja yang tetap solid, serta pertumbuhan kredit yang berpotensi mendukung laba perusahaan di luar ekosistem AI.

“Bagian lain dari pasar juga berpotensi memberikan kontribusi imbal hasil yang menarik,” tulis CIO UBS.

Konsumer diskresioner atau nonprimer, dinilai jadi salah satu sektor yang menarik. UBS menilai ketahanan konsumen dalam menghadapi dinamika global, seharusnya akan menopang saham-saham dari sektor ini, yang di dalamnya termasuk perusahaan ritel, pariwisata, hiburan, hingga barang konsumsi.

Selain itu, UBS melihat prospek yang membaik pada sektor industri dan saham-saham siklikal, yang sensitif terhadap siklus ekonomi.

“Kenaikan indeks manufaktur ISM belakangan ini mengindikasikan membaiknya kondisi bagi sektor industri, serta sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi,” imbuh CIO UBS.

Sementara sektor lain yang dinilai menarik termasuk kesehatan, karena selama ini telah terbukti berperan tidak hanya sebagai investasi defensif.

Meskipun demikian, UBS mengakui bahwa reli pasar tentu juga akan didukung saham-saham terkait AI—meskipun belakangan ini menghadapi tekanan.

Namun seiring estimasi lonjakan belanja modal terkait AI yang meningkat 68% secara tahunan menjadi sekitar US$820 miliar pada 2026, UBS juga tak mengabaikan saham-saham dari sektor teknologi dan AI sebagai bagian dari pendukung reli pasar saham berikutnya. (KR)

BPF