Analisis Minyak Bertahan Menguat Usai Serangan Kapal di Hormuz - Data Pasar 2026-06-26

Analisis Minyak Bertahan Menguat Usai Serangan Kapal di Hormuz - Data Pasar 2026-06-26

Minyak Bertahan Menguat Usai Serangan Kapal di Hormuz

Harga Minyak masih menahan sebagian besar kenaikan setelah sebuah kapal kargo diserang di sekitar Selat Hormuz. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap keselamatan jalur pelayaran vital itu, meskipun arus kapal sebelumnya mulai meningkat setelah adanya kemajuan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Brent diperdagangkan di sekitar US$75 per barel setelah naik lebih dari 2% pada sesi sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI berada di bawah US$72 per barel. Pada perdagangan Kamis, Brent sempat menghapus seluruh kenaikan akibat perang, sebelum kembali menguat setelah laporan serangan terhadap kapal di tenggara Oman.
Serangan tersebut terjadi ketika kapal-kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz secara terbuka. Pembukaan jalur ini sebelumnya menambah jutaan barel Minyak ke Pasar global dan sempat menekan harga Minyak dalam beberapa hari terakhir. Namun, insiden terbaru membuat Pasar kembali mempertanyakan seberapa cepat arus Minyak dari Teluk Persia dapat benar-benar normal.
Pembicaraan lanjutan antara Washington dan Teheran diperkirakan masih akan berlangsung panjang, terutama terkait isu nuklir dan pengaturan keamanan jalur pelayaran. Meski demikian, harga Minyak telah turun tajam dalam beberapa waktu terakhir dan masih berada di jalur pelemahan mingguan ketiga. Futures Brent bahkan sudah turun lebih dari 6% sepanjang pekan ini.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa kapal tersebut terkena serangan Iran. Namun, seorang pejabat Gedung Putih mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu. Menurut pejabat tersebut, Amerika Serikat masih menyelidiki siapa pelaku di balik serangan tersebut.
Insiden ini juga terjadi ketika beberapa kapal komersial dilaporkan berbalik arah saat mencoba melintasi Selat Hormuz. International Maritime Organization atau IMO, regulator pelayaran global di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyatakan bahwa pihaknya menghentikan sementara operasi evakuasi kapal di selat tersebut untuk memastikan kembali aspek keselamatan.
Saat ini, terdapat dua rute keluar utama melalui Hormuz karena jalur normal di bagian tengah diduga masih memiliki risiko ranjau. Salah satu rute berada dekat Iran, sementara rute lainnya mengikuti garis pantai Oman dan dilindungi oleh Amerika Serikat. Namun, Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan bahwa kapal yang melintas di luar kerangka rute yang ditentukan tidak akan mendapat jaminan keselamatan.
Presiden AS Donald Trump pada Kamis malam mengatakan bahwa Selat Hormuz telah terbuka. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Putih saat ia menyebut Iran akan membeli produk pertanian AS dengan dana aset yang dibekukan, klaim yang kemudian dibantah oleh Teheran.
Analis BOK Financial Securities, Dennis Kissler, menilai kenaikan harga Minyak setelah serangan tersebut lebih terlihat sebagai pergerakan short-covering. Menurutnya, Pasar Minyak yang sudah berada dalam kondisi sangat oversold berpotensi mengalami koreksi sementara sebelum tekanan jual baru kembali muncul.
Sebelum insiden ini, Minyak dari Teluk Persia sempat mengalir keluar melalui Selat Hormuz dengan laju tercepat sejak perang dimulai. Goldman Sachs memperkirakan ekspor Teluk saat ini telah berjalan hampir dua pertiga dari kondisi normal, sementara laju penurunan persediaan global yang terlihat mulai melambat.
Namun, produsen Minyak Teluk masih menghadapi tantangan dalam mengamankan kapal tanker untuk mengangkut Minyak keluar dari kawasan tersebut. Irak bahkan terpaksa menghentikan produksi di salah satu ladang utamanya karena kekurangan kapal. Di sisi lain, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar terus meningkatkan pasokan.
Iraq juga sedang berupaya memperoleh kuota produksi OPEC yang lebih tinggi untuk menutup penjualan Minyak yang hilang selama perang. Meski sempat muncul wacana bahwa negara itu dapat mempertimbangkan keluar dari OPEC, Kementerian Perminyakan Irak kemudian menegaskan bahwa keluar dari kelompok tersebut belum menjadi posisi resmi Pemerintah.
Dengan kondisi ini, Pasar Minyak masih berada di antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, normalisasi arus Hormuz dan kenaikan produksi Teluk dapat menekan harga. Namun di sisi lain, serangan kapal dan ketidakpastian keamanan jalur pelayaran membuat premi risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dari harga Minyak.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id

Analisis Komprehensif Pasar Minyak

Pasar Minyak dunia mengalami dinamika yang kompleks dipengaruhi faktor supply-demand, geopolitik, dan kebijakan energi global.

Faktor Penentu Harga Minyak

  • Kebijakan OPEC+: Kuota produksi dari kartel Minyak mempengaruhi supply global.
  • Data Inventori AS: Laporan mingguan EIA menjadi indikator penting demand.
  • Tensi Timur Tengah: Stabilitas kawasan produsen Minyak utama.
  • Permintaan Global: Pemulihan ekonomi pasca-pandemic mempengaruhi konsumsi.

Panduan Analisis Pasar Keuangan

Untuk sukses dalam trading dan investasi, penting untuk memahami berbagai alat analisis yang tersedia:

analisis fundamental

Analisis fundamental melibatkan studi mendalam tentang kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor makro yang mempengaruhi Pasar. Tools seperti kalender ekonomi dan laporan fundamental menjadi kunci.

Analisis Teknikal

Analisis teknikal menggunakan data harga historis dan volume untuk memprediksi pergerakan masa depan. Indikator seperti moving average, RSI, dan MACD sering digunakan oleh trader.

Manajemen Risiko

Implementasi manajemen risiko yang tepat, termasuk position sizing dan stop-loss, sangat penting untuk keberlanjutan trading dalam jangka panjang.

BPF