Rencana Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menggelontorkan investasi senilai lebih dari US$2,3 triliun memicu kekhawatiran baru di pasar obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bonds/JGB).

Sejumlah analis menilai program tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan pemerintah dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang.

Seperti dikutip Bloomberg, strategi yang diumumkan pada Rabu itu menargetkan investasi publik dan swasta lebih dari ¥370 triliun dalam periode 14 tahun. Namun, pasar masih mempertanyakan sumber pendanaan program tersebut serta kemampuan pemerintah merealisasikan target pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan.

Hingga kini, pemerintah Jepang belum merinci tambahan belanja fiskal yang dibutuhkan untuk mendukung program tersebut. Analis dari sejumlah perusahaan sekuritas, termasuk SMBC Nikko Securities dan Daiwa Securities, menilai potensi peningkatan penerbitan surat utang pemerintah dapat menekan pasar obligasi.

Investor saat ini mencermati skema pembiayaan program investasi tersebut. Masayuki Koguchi, Executive Fund Manager Mitsubishi UFJ Asset Management, mengatakan pasar akan fokus pada sumber pendanaan yang dipilih pemerintah.

“Pada akhirnya, kemungkinan besar dana tersebut akan dihimpun melalui penerbitan obligasi pemerintah atau cara lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, skenario tersebut berpotensi membuat pasar obligasi Jepang menjadi “sulit dibeli.”

Pandangan serupa disampaikan Chief Strategist Daiwa Securities, Shun Otani. Dalam laporannya, ia menilai program investasi tersebut berpotensi memberikan tekanan negatif terhadap pasar surat utang pemerintah.

“Rencana investasi tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap pasar obligasi pemerintah,” tulis Otani.

Menurutnya, proyeksi pemerintah saat ini mengasumsikan belanja fiskal tahunan sekitar ¥10 triliun yang disertai penerbitan obligasi jembatan tambahan.

Namun, ketidakpastian mengenai keberhasilan investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berisiko meningkatkan premi risiko yang diminta investor.

Kekhawatiran pasar muncul di tengah meredanya imbal hasil JGB dalam beberapa pekan terakhir seiring berkurangnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, investor masih mewaspadai kemungkinan Bank of Japan tertinggal dalam siklus normalisasi suku bunga.

Di sisi lain, agenda fiskal Takaichi yang mencakup kemungkinan pemangkasan pajak penjualan untuk bahan pangan turut menambah ketidakpastian terhadap prospek fiskal Jepang.

Sentimen tersebut tercermin pada lelang obligasi tenor 20 tahun yang digelar Kamis. Permintaan investor tercatat menjadi yang terlemah sejak Mei 2025, dengan rasio bid-to-cover turun di bawah 3 kali, jauh di bawah rata-rata 12 bulan terakhir.

Data juga menunjukkan perusahaan asuransi Jepang menjual obligasi pemerintah domestik bertenor sangat panjang pada Mei, berbalik arah dari pola pembelian yang biasanya terjadi pada awal tahun fiskal.

Di saat yang sama, sejumlah manajer investasi global mulai mengurangi eksposur terhadap surat utang pemerintah Jepang berjangka panjang.

Senior FX and Rates Strategist SMBC Nikko Securities, Rinto Maruyama, menilai program investasi pemerintah berpotensi meningkatkan tekanan terhadap suku bunga jangka panjang.

“Ada kemungkinan besar bahwa rencana investasi Takaichi akan memicu tekanan kenaikan pada suku bunga jangka panjang dan sangat panjang,” kata Maruyama.

Menurutnya, belanja fiskal akan direalisasikan lebih dahulu, sementara dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi baru akan terlihat dalam jangka panjang.(DH)

BPF