Prospek saham-saham lapis kedua (second liner) diprediksi bakal bervariasi. Hal ini seiring adanya rebalancing indeks FTSE yang turut menyasar sejumlah saham di kategori tersebut. Sebagaimana diketahui, pekan lalu FTSE Russell mengumumkan bahwa salah satu saham Indonesia yaitu BSDE keluar dari indeks pada kelompok Mid Cap. Selain itu, ada 10 saham yang keluar dari kelompok Small Cap, antara lain BBYB, BJBR, BTPS, LPKR, LPPF, MNCN, PNLF, SILO, SMRA, danSCMA. FTSE juga menyingkirkan 27 saham Indonesia dari kelompok Micro Cap, contohnya adalah ADHI, ASSA, CARS, DILD, KEEN, MAIN, HEAL, PBID, PTPP, PRDA, ISSP, dan lain-lain. Sementara dari sisi performa, indeks Small-Mid Cap (SMC) Composite mampu menguat 2,29% dalam sebulan terakhir ke level 395,53 pada perdagangan intraday Kamis (27/8/2026). Pada saat yang sama, kinerja IDX SMC Liquid naik 3,92% ke level 305,92. Baca Juga: BEI Suspensi Saham EKAD, TMPO, dan PACK Usai Naik Ratusan Persen dalam Sebulan Performa kedua indeks kumpulan saham-saham lapis kedua ini relatif bisa bersaing dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 3,74% dalam sebulan terakhir. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, eksklusi sejumlah saham lapis kedua dari FTSE dapat memicu outflow dana pasif jika tekanan jangka pendeknya terjadi. Namun, sentimen ini tidak merefleksikan dampak secara fundamental. “Dampak eksklusi perlu dipisah per emiten, apakah karena likuiditas atau penurunan market cap,” ujar dia, hari ini. Wafi juga menyebut, kinerja outperform IDX SMC Liquid dibandingkan IHSG juga menunjukkan bahwa saham-saham lapis kedua masih memiliki daya tarik tinggi dari investor domestik, meski beberapa saham keluar dari FTSE. Di luar itu, nasib saham-saham lapis kedua juga bakal ditentukan oleh rebalancing indeks MSCI yang akan efektif berlaku pada awal September 2026 dan status High Shareholder Concentration (HSC) yang berdampak ke beberapa saham lapis kedua. “Saham lapis kedua masih bisa jadi penopang pasar, terutama jika saham berkapitalisasi besar tertekan oleh isu MSCI atau outflow asing,” ungkapnya. Sementara menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand, saham-saham lapis kedua di sektor perbankan digital dan kredit konsumen menarik untuk dicermati oleh investor. Selain itu, sektor barang konsumsi menengah dan kesehatan juga tetap prospektif mengingat permintaan yang inelastis terhadap volatilitas pasar. BBYB Chart by TradingView Terlepas dari itu, investor disarankan masuk secara bertahap dan selektif pada saham-saham lapis kedua yang memiliki katalis fundamental jelas. “Investor jangan hanya sekadar mengejar rebound teknikal pasca rebalancing indeks,” kata dia, Senin (24/8). Dari sekian saham lapis kedua, Abida merekomendasikan beli saham BBYB dengan target harga Rp 400 per saham.